LINIBERITA – Ketika tiba bulan Muharam tiba Warga yang tinggal di Situs Cagar Budaya Rumah Adat Cikondang Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung, melakukan Reumbuk Padi dan mengolah berbagai macam makanan dari Padi Lulugu atau Padi Ketan untuk perayaan Wuku Taun dari 1 Muharam sampai 24 Muharam.
Terucap dari Abah Ilin selaku Kordinator Kampung Adat Cikondang “Ada dua belas rupa makanan ringan dan 7 rupa rencang sangu (lauk makanan) yang dibungkus dengan menggunakan Daun Pisang atau Konca yang disajikan ketika datang perayaaan Wuku Taun “ ucapnya Sbatu (23/11). Duabelas rupa warna makanan mempunyai Filosofi setahun ada duabelas bulan, dan tujuh rupa makanan yang mempunyai artibahwa seminggu itu ada tujuh hari.
Bentuk Rumah Adat Cikondang sangat minimalis dan mengandung banyak arti, memiliki 1 Pintu yang mempunyai Filosofis percaya hanya kepada allah SWT, 5 Jendela yang mengingatkan rukun Islam itu ada lima, dan 9 penyekat Jendela yang mempunyai sejarah Islam di Indonesia disebarkan oleh Sembilan tokoh Islam atau disebut dengan Wali Songo.
Jka kita masuk kedalam rumah Adat, pastinya kita tidak akan menemui barang Pecah dan Elektronik karena merupakan suatu pantrangan.
Abai Ilid mengatakan “Keunikan Kampung Adat Cikondang masih banyak selain pantrangan ada empat pesan kebudayaan yang ditinggalkan dari leluhur kampung Adat Cikondang yang berlaku pada abad ke-19”, diantaranya :
- Atap Rumah tidak menggunakan Genteng, yang berarti jangan lupa pada asalmuasal manusia yang berasal dari tanah. Jadi kita di ibaratkan tinggal disuatu ruangan yang beratapkan tanah.
- Tidak Boleh Naik haji, karena waktu dulu biaya untuk naik haji membutuhkan biaya banyak.
- Tidak boleh menjadi orang kaya, karna takutnya menjadi orang yang serakah dan tidak bersyukur kepada Tuhan.
- Tidak boleh menjadi Pejabat atau pegawai Pemerintahan, yang artinya diabad ke-19 tersebut kekuasaaan masih ditangan Belanda, yang dimana pribumi tidak boleh menjadi antek-antek Belanda.
Nilai Nasionalisme Masyarakat Kampung Cikondang sangat tinggi, dibuktikan dari pakian Adat Baju koko putih yang melambangkan air yang bersih, celana hitam yang berarti tanah dari tanah dan akan kembali ke tanah, juga Iket kepala yang mempunyai arti “Sabengket, Saiket” yang berati kita sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bersatu. Pungkasnya Sabtu (23/11).
(Wisma/Bandung)
No comments:
Post a Comment