• About
  • Contact
  • Sitemap
  • Privacy Policy

Sabilulungan Raksa Desa. melalui Bank Sampah

 on Tuesday, December 30, 2014  

Bicara soal sampah kecenderungannya adalah kita tidak terlalu memikirkan apakah sampah yang kita hasilkan itu organik atau non-organik. Kita mungkin juga tidak terlalu peduli ke mana larinya sampah itu. Sementara kenyataannya di Indonesia, sampah rumahtangga kita akan bercampur dengan sampah jutaan rumahtangga lainnya, hingga terbentuklah gunung-gunung sampah yang tak semestinya di tempat pembuangan akhir (TPA) berbagai kota.  

Para pakar mengatakan bahwa pengelolaan sampah yang ideal, merupakan tanggungjawab bersama bukanlah milik pemerintah kota semata. Jumlah penduduk terus meningkat, begitu pula pola konsumsi. Volume sampahpun kian meluap di berbagai TPA.

Permaasalahan sampah menjadi perhatian Bank Dunia yang mengkaji berbagai cara untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Salah satu pilihannya adalah memperbanyak jumlah bank sampah.  Belum lama ini Bank Sampah Bandung Sabilulungan (BSBS) diluncurkan pada 27 September lalu. 

Direktur BSBS John Sumual mengatakan, sebelumnya bank sampah ini sudah jalan dua bulan kebelakang yang dinamai Bank Sampah Bandung Mandiri (BSBM). BSBM diganti menjadi BSBS karena sesuai program Bupati Bandung Sabilulungan Raksa Desa sehingga Bank Sampah ini dinamai Bank Sampah Bandung Sabilulungan yang beralamatkan di  Jl. Ters Bojong Soang No. 174  Baleendah. BSBS mempunyai motto yaitu Bandung Bersih Sehat dan Bermanfaat melalui Bank Sampah.

Bank sampah sudah ada di berbagai daerah di Indonesia salah satunya Malang. Program bank sampah di Kabupaten Bandung diadopsi dari Malang. Karena di Malang program bank sampah sudah menjadi proyek percontohan Nasional. “Mereka sudah tiga tahun jalan dan cukup sukses, walaupun bukan mereka yang pertama. Daerah-daerah di Indonesia pun  yang akan mendirikan bank sampah pasti belajar ke Malang,” ujarnya. 

CSR dan pemberi dana untuk BSBS ini merupakan  Perusahaan Industri yang ada di daerah Dayeuh Kolot.  Pendananya punya visi baagaimana jika masyarakat berobat pakai sampah. Ide tersebut berasal dari Dr. Jamal binaan Bank Sampah Malang. 

Bank sampah ini berdiri karena adanya keprihatinan masyarakat akan lingkungan hidup yang semakin lama semakin dipenuhi dengan sampah. Terutama dengan kondisi Sungai Citarum yang semakin kotor oleh tumpukan sampah. Sampah yang semakin banyak tentu akan menimbulkan banyak masalah, sehingga memerlukan pengolahan seperti membuat sampah menjadi bahan yang berguna. 

“Pengelolaan sampah dengan sistem bank sampah ini diharapkan mampu membantuk pemerintah dalam menangani sampah dan meningkatkan ekomoni masyarakat selain itu juga dapat menyadarkan masyarakat agar terbiasa hidup bersih,” katanya.

Nantinya, sampah rumahtangga tersebut akan dipilah menjadi dua kelompok yaitu sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik nantinya diolah menjadi kompos, sementara sampah non-organik akan dipilah lebih lanjut ke tiga sub-kelompok: plastik, kertas, serta botol dan logam yang nantinya bisa dijadikan prakarya atau dijual.   

Agar sampah rumahtangga ramah lingkungan biasanya sampah tersebut disimpan di tiga tong sampah atau kantong sampah besar berbeda dengan warna yang berbeda. Jika di Kabupaten Bandung warna tong sampah tersebut yaitu merah untuk organik, kuning untuk non-organik dan hijau untuk pecahan kaca atau botol.

Berbagai macam  jenis sampah tersebut mempunyai harga yang ekonomis. Begitu ketiga tong sampah tersebut sudah penuh, isinya lalu bisa “ditabung” di sebuah bank sampah. BSBS menyediakan pengelolaan simpanan nasabah seperti bank-bank konvensional pada umumnya, dimana ada nomor rekening, nasabah, proses menabung, pengambilan hasil tabungan, selain itu ada buku tabungan sampah. 

Struktur Bank biasa, diakomonsir selayaknya bank biasa ada Direktur, Bendahara, Teller dan Nasabah. Yang membedakan dalam hal ini adalah warga tidak menabung uang, tetapi menabung sampah mereka masing-masing yang dikonversi menjadi rupiah di dalam rekeningnya masing-masing. Dengan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan operasional, pengontrolan, dan pengawasan pada Bank Sampah dengan data yang akurat dan terbaru.

John mengungkapkan, nasabah bank sampah menjangkau semua kalangan masyarakat, ketika masyarakat bisa bergabung dengan  bank sampah mereka bisa memilih dua katregori bank sampah. Bisa nasabah individu bisa nasabah kelompok. “Nasabah individu masyarakat sendiri yang langsung bawa, jika nasabah kelompokituminimal harus punya dan anggotanya minimal harus punya anggota 20 orang,” ungkapnya.

Seperti halnya sebuah bank komersil, kita bisa membuka rekening di sebuah bank sampah. Secara berkala, kita bisa mengisi tabungan kita dengan sampah non-organik yang ditimbang dan diberi nilai moneter, sesuai harga yang sudah ditentukan oleh para pengepul. Nilai moneter ini ditabung, dan sama halnya sebuah bank komersil, isi tabungan tersebut bisa ditarik sewaktu-waktu. Di manapun tempatnya, prinsip-prinsip dasar bank sampah tetap sama untuk menyimpan sampah, untuk menabung, untuk menghasilkan uang, untuk mengubah perilaku dan menjaga kebersihan.    

“Bank Sampah merupakan salah satu alternatif mengajak warga untuk peduli dengan sampah dan permasalahannya. Bank sampah merupakan sebuah sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, dengan memberikan imbalan berupa uang tunai ataupun voucher kepada warga yang memilah dan menyetorkan sejumlah sampah.”

Bank sampah dalam pelaksanaanya dapat mengurangi tingginya angka sampah di masyarakat dan di tempat pembuangan akhir (TPA), dengan begitu volume sampah yang ada di masyarakat dan TPA dapat berkurang. “Pembuangan sampah ke TPA dikurangi 2/3, jadi yang masuk ke tinggal TPA 1/3 sampah an organik kotornya,” katanya.

Pengelolaan Bank Sampah juga mengikuti kaidah-kaidah yang terdapat dalam Undang-undang nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, bahwa prinsip dalam mengelola sampah adalah reduce, reuse dan recycle (3R).

Saat ini Bank Sampah di Kabupaten Bandung masih dalam proses sosialisasi dikarenakan masyarakat belum tahu menyeluruh. Sosialisasi sudah dilakukan diberbagai tv-tv lokal, radio dan media massa lainya seperti cetak , mengumumkannya bahwa Kabupaten Bandung memiliki Bank Sampah. 

 “Baru 3 Kecamatan di Kabupaten Bandung yang bergabung dengan kami, yaitu Kecamatan Dayeuh Kolot, Baleendah dan Bojong Soang yang lainnya masih dalam proses sosialisai,” katanya.

Meski saat ini Pemda belum memberi dukungan materil hanya dukungan moril kami tetap medukung program Bupati Sabilulungan Raksa Desa. Sabilulungan Raksa Desa kami kenalkan kepada masyarakat dengan melaksanakan launching di dekat Sungai Citarum Dayeuh Kolot. “Launcing kemaren sekaligus pesta rakyat yang lokasinya di dekat aliran Sungai Citarum. Kami mengajak masyarakat ikut bersih-bersih, sabilulungan menjaga lingkungan sungai bersama. karena lokasi ini potensi sampahnya sangat rentan,” pungkasnya. Wisma Putra

Sabilulungan Raksa Desa. melalui Bank Sampah 4.5 5 Wisma Putra Tile Tuesday, December 30, 2014 Bicara soal sampah kecenderungannya adalah kita tidak terlalu memikirkan apakah sampah yang kita hasilkan itu organik atau non-organik. Kita...


No comments:

Post a Comment

Wisma Putra. Powered by Blogger.
J-Theme