Panen raya Kawasan Rumah Pangan Laestari (KRPL) Sabilulungang berlangsung meriah. Kegiatan tersebut bertepatan dengan Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) yang ke 43 tingkat Kabupaten Bandung yang berlangsung di halaman Gedung Dewi Sartika Komplek Pemkab Bandung. Bukan hanya itu, pada kegiatan tersebut juga dicetuskan program tentang gerakan anak makan sayur dan gelaran olahan pangan sederhana Jum’at, 31 Oktober 2014.
Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksaanaan Penyuluhan (BKP3) Dadang Hermawan mengatakan, tujuan peringatan tersebut adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian dan seluruh stakeholder, menyoal pentignya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi mengacu pada ketahanan pangan. “Selama Kabupaten Bandung dikenal sebagai penghasil sayuran terbanyak. Namun, kesadaran mengkonsumsi sayuran masih sangat kurang,” katanya.
Gerakan anak makan sayur dan gelaran olahan pangan sederhana tersebut dicanangkan untyuk memotivasi ibu rumahtangga di Kabupaten Bandung. “Kegiatan ini berlangsung agar meningkatkan kepedulian soal peningkatan gizi melalui konsumsi sauran,” ungkapnya.
Setelah melaksanakan panen raya di titik utama yaitu di halaman Gedung Dewi Sartika atau Gedung PKK Kabupaten Bandung panen raya diteruskan serentak di 26 Kantor SKPD, 23 di kawasan Pemkab Bandung dan 3 diantaranya di luar kawasan Pemkab.
Asas Kabid BKP3 mengungkapkan ada pro dan kontra saat penerapan KRPL Sabilulungan disetiap halaman kantor dinas Kabupaten Bandung yang dimana setiap kantor diberi rak instalasi hidropnik untuk merawat sayuran. “Sebelumnya memang ada keluhan. Ya, ada yang menganggap itu bukan tugas poko mereka dan hanya menambah kerjaan. Mereka kaget. Tapi setelah dijelaskan maksud dan tujuannya merekapun antusias,” katanya.
Ia mengungkapkan, kegiatan merwat sayur di pekarangan/halaman bukan kami jadikan sebagai profesi dan menambah tugas mereka, tapi ini dimaksudkan untuk memberi sauri tauladan kepada masyarakat. “Jadi aparatur Negara atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu tidak melulu harus saja menyuruh tapi memberikan contoh.
Selain itu, SKPD merupakan tempatpelayanan public yang setiap harinya srring dikunjungi masyarakat. Sehingga program ini dapat dijadikan sebagai sosialisasi kepada masyarakat bahwa pemerintah sedang menggulirka program KRPL Sbilulungan.
Tidak semua kantor dinas mendapatkan rak instalasi hidroponik tersebut, dalam penerapanya perlu identifikasi dan vrefikasi lokasi yang bertujuan untuk mengukur tingkat cahaya yang masuk. “Kegiatan ini sangat luarbiasa, pada tahap awal atau tahap belajar saja sudah banyak yang antusias. Setelah panen perdana, di panen kedua ada kemungkinan di lombakan,” katanya.
Dalam penerapanya setiap kantor dinas diberi bibit oleh BKP3. Setelah penanaman dilakukan itu menjadi tanggung jawab masing-masing dan pengelolanyapun merupakan petugas dimasing-masing dinas dan kita arahkan “Kami hanya memberikan pelatihan,. Pelatihan belum maksimal karena kemaren sedikit ngebut meski begitu kami selalu memantau, dan untuk sementara mereka bisa dikatakan sukses dalam merawat sayur di halamannya meskipun persiapan kurang dan untuk kedepannya mentensnya akan diperbaiki.”
Meski persiapannya hanya dilakukan 14 hari, hal tersebut tidak dilalui sebantar. Kegiatan ini dilakukan untuk memperkenalkan kepada masyarakan mengenai cara bercocok tanam dengan sistem instalasi hidroponik melalui program KRPL Sabilulungan, yang memperkenalkan sistem penanaman dengan dimanajemen yang baik sehingga dapat melakukan panen setiap hari.
Menurut Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, dalam peringatan HPS Ke-43, sengaja mengajak masyarakat dan stakeholder untuk melakukan panen raya di kwasan Pemkab Bandung. “KRPL ini sebenarnya progam nasional yang telah digulirkan disetiap daerah. Namun pada tahun ini kami akan memprioritaskan perkembangannya hingga seluruh wilayah, ini dilakukan sebagai salahsatu cara efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan,” ujarnya.
dengan memanfaatkan lahan yang ada disekitar rumah, masyarakat bisa menanam atau sayuran yang bernilai ekonomis tinggi. karena selain dikonsumsi hasil KRPL juga dapat dijual sehingga akan menambah penghasilan keluarga.
Bupati mBandung meyakini jika program ini dapat berjalan baik angka kemiskinan di Kabupaten Bandung dapat berkurang. “Di 139 KWT yang tergabung dalam KRPL, saya setiap harinya memanen sekitar 5 ton. Walau masih jauh untuk mencukupi kebutuhan tapi kami terus berusaha agar banyak pihak yang mau melaksanakan program ini,” ungkapnya.
Sementara itu, dalam peringatan HPS Ke-43 ini Nampak hadir Bunda KRPL Sabilulungan. Hj. Karunia Agustina Dadang M. Naser, yang terus berupayta keras dalam menyosialisasikan program KRPL Sabilulungan melalui KWT. Aksinya dimulai dari membangun greenhouse di halaman rumah dinasnya. Lalu, mengembangkannya ke beberapa daerah melalui keiatan yang dibidanginya.
Kegiatan ini merupakan kegiatan sampingan yang nantinya para ibu rumah tangga mempunyai pekerjaan sampingan menjadi petani wanita yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Selain itu, ia juga memperkenalkan cara mengemas produk yang sesuai standar UMKM. “Agar bisa dipasarkan dengan luas ke pasar-pasar modern nantinya. Sehingga Kabupaten Bandung dapat terus mempertahankan kesuksesan di bidang ketahanan pangan dimata khalayak luas,” katanya.
Ia merasa senang dengan kegiatan ini, Rasanya kegiatan ini membawa aura positif pasalnya semua element terlibat, semua dapat merasakan sensasi panen bersama dalam rangka panen rasa di HPS Ke-43 ini. “Dari mulai anak-anak kami berikan doktrin dengan gemar makan sayur dan buah. Kemudian ibu-ibunya yang sangat antusias mengikuti kegiatan ini,” katanya.
Kegiatan ini nantinya akan disinergikan dengan kegiatan unit dharma wanita yang mana kumpulan dari para isteri kariyawan/kariawati di dinas atau intansi setempat. Ketika kegiatan perdana ini dapat mengairahkan ini merupakan awal kemudahan untuk mementens bahkan bisa meningkatkan, mendorong ekonomi.
Ia berharap dalam pemberdayaannya warga Kabupaten Bandung mempunyai kesadaran selama masih bergantung pada hasil pangan. “Ada baiknya dari mulai anak kecil kita ajak untuk gemar memakan sayur dan medoktrin alam bawah sadarnya yang nantinya mereka akan ingat apa yang pernah mereka alami. Para ibu juga harus semakin sayang kepada anaknya dengan menyediakan makanan sehat dan bergizi dari pangan yang ditanamnya sendiri,” ungkapnya.
Bangga Jadi Pembina Ketahanan Pangan
Dalam meningkatkan ketrahanan pangan, Kabupaten Bandung patut diancungi jempol. Ini dibuktikan dengan menyabet tujuh penghargaan dalam peringatan Hari Ketahanan Pangan Sedunia Tingkat Jawa Barat 2014 belum lama ini.
Penghargaan langsung diberikan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kepada Bupati Bandung H. Dadang M. Naser yang menjadi pendorong dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bandung.
Selain itu penobatan Bupati Bandung H. Dadang M. Naser sebagai Pembina Ketahanan Pangan Jawa Barat beberapa hari kebelakang yang dibuktikan dengan terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat Kabupaten Bandung dan menjadikan Kabupaten Bandung sebagai sentra produksi kentang, wortol dan satwberry.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Bandung menyatakan kebanggaannya akan prolehan prestasi di bidang ketahanan pangan. “Sangga, ini prestasi yang menakjubkan.”
Menanggulangi Alih Fungsi Lahan
Ketahanan pangan akan kuat disetiap daerah jika pemerintah dan masyarakatnya dapat bersinergi untuk menjada alih fungsi lahan. Setelah melakukan mimbar sarahsehan BKP3 dengan KTNA Bupati Bandung mendapat beberapa masukan mengenai langkah-langkah dan kebijakan pemerintah di sektor pertanian. Bupati Bandung mengakui bahwa saat ini alih fungsi lahan semakin marak yang bisa menyebabkan kemunduran ketahanan pangan.
“Alih fungsi lahan memaang sulit dihindari, karena memang laju pertumbuhan penduduk yang menyebabkan banyak pemukiman yang dibangun di atas areal pesawahan,” ungkapnya.
Bupati Bandung meyakini masyarakat Kabupaten Bandung sadar akan ketahanan pangan, mereka akan menjaga wilayahnya, terus berusaha meningkatkan hasil pertanian demi terwujudnya ketahanan pangan yang baik dan berkualitas.
‘Budaya ssabilulungan harus diterapkan dalam pertanian. Agar kualitas pangan Kabupaten Bandung tidak hanya unggul tetapi menjadi andalan. Terbukti, menurut survey 35 persen holtikultura Jawa Barat dipasok dari Kabupaten Bandung,” ujarnya.
Kedepannya, pemerintah akan mengarahkan pertanian Kbupaten Bandung ke bidang argowisata dan industri pertanian. “Oleh sebab itu, BKP3 sebagai leanding sector harus bisa menyinergikan dengan dinas-dinas lain. Seperti Dinaskan dan Diskoperindag untuk peningkatan daya belinya.” Wisma Putra
No comments:
Post a Comment